Oleh: lenterapena | Oktober 13, 2009

Menggapai Kemenangan

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut (karena dosa) kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan (An-Nur: 52)

Berakhirnya bulan ramadan menyisakan kenangan indah bagi setiap muslim. Kenangan pada sebuah kedekatan dengan Maha Pencipta melalui ibadah-ibadah di bulan yang suci. Kedekatan yang terjalin melalui shaum, shalat dan melantunkan firman-Nya. Demikian pula kenangan pada kehangatan persaudaran melalui tolong-menolong dengan sesama (ta’awun), menebar sedekah dan menunaikan zakat.

Bulan ramadan merupakan waktu yang sangat tepat untuk melatih diri (riyadhah tsanawiyah) dalam rangka meningkatkan kualitas pribadi sebagai manusia (ketakwaan). Berlatih menahan diri dari syahwat anggota tubuh, mengendalikan pikiran dan hati. Menghindari segala yang membahayakan keberadaan diri sendiri dan orang lain. Meningkatkan ketaatan kepada Allah Swt. Melalui ibadah.

Apa yang dilatihkan kepada diri masing-masing tidaklah berhenti bersamaan dengan berakhirnya bulan suci ini. Idulfitri sebagai hari kemenangan bukanlah akhir dari proses peningkatan kualitas diri dan penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang mulia, melainkan pertanda awal keberhasilan kita dalam melatih diri guna lebih meningkatkan kualitas pribadi. Apabila pada bulan ramadan kita melakukan segenap ibadah, baik ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah Swt. (mahdhah) maupun yang berkaitan dengan sesama (ghair mahdhah), seyogianya pada bulan syawal dan bulan berikutnya pun tetap melaksannakannya (istiqamah). Bahkan ditingkatkan menjadi lebih baik.

Kemenangan pada hari raya Idulfitri adalah kemenangan bagi orang yang mampu meningkatkan kualitas pribadi atau ketakwaannya kepada Allah Swt. Jika pada bulan sebelum ramadan kita belum mampu meninggalkan perbuatan yang sia-sia, maka setelah ramadan kita mampu meninggalkan perbuatan tersebut dan menggantinya dengan perbuatan yang lebih bermanfaat. Demikian pula, apabila sebelum ramadan kita belum mampu melaksanakan ibadah yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya, maka setelah bulan ramadan lebih giat melaksanakannya.

Tujuan utama diwajibkannya shaum di bulan ramadan adalah untuk meningkatkan ketakwaan. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-baqarah: 183). Sehingga yang menjadi penentu kemenangan seseorang di hari raya adalah peningkatan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Apabila setelah ramadan ketaatan kita kepada Allah Swt. meningkat, maka itu bisa jadi tanda peningkatan ketakwaan kita. Sebaliknya, apabila ketaatan kita menurun, maka itu bisa jadi tanda ketakwaan kita menurun. Namun, hendak diingat bahwa ramadan bukanlah satu-satunya waktu untuk menempa diri dengan ragam latihan spiritual keagamaan. Karena pada hakikatnya setiap waktu adalah baik untuk dimanfaatkan dalam jalan kebaikan. Setiap gerak-gerik seorang muslim kapan pun bisa jadi ladang ibadah apabila disertai dengan niat menggapai ridha-Nya. Kebaikan senantiasa memiliki tempat untuk dilakukan oleh siapa pun.

Setiap muslim yang telah menjalani proses peningkatan kualitas pribadi pada bulan ramadan adalah mereka yang terlahir kembali dalam kesucian jiwa dan siap mewarnai diri serta lingkungannya dengan ragam kebaikan. Setiap perkataan yang diucapkannya sesuai dengan apa yang dilakukan. Tindakannya senantiasa memperhatikan nilai-nilai agama yang mulia dan kemanfaatan bagi dirinya serta orang-orang di sekitar.

Secara etis, ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah Swt. senantiasa berorientasi pada nilai-nilai kemanusian atau kemaslahatan umum. Mendorong orang yang melaksanakan ibadah untuk peduli terhadap orang-orang di sekelilingnya. Demikian pula dengan shaum, ia mendorong setiap orang untuk peka terhadap keadaan orang-orang di sekelilingnya. Terutama mereka yang berada dalam kondisi kekurangan. Sehingga setiap orang terdorong untuk saling membantu dan berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Allah Swt. memberikan janji yang sangat manis bagi orang-orang yang senantiasa mewarni kehidupan dengan ketakwaan dan kebaikan, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (An-nahl: 128). Dengan kedekatan itulah, apa pun kehendak baik yang dimiliki orang yang bertakwa dan orang yang senantiasa melakukan kebaikan dengan seizin-Nya akan terwujud. Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang yang menggapai kemenangan di hari raya yang suci ini. Wallahu a‘lam bis shawab.

Oleh: lenterapena | September 2, 2009

Shaum

Dalam pemahaman keumuman kaum muslim, shaum sering dimaknai sebagai kegiatan menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami istri mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Definisi mengenai bentuk shaum tersebut sering dijadikan ukuran ketuntasan ibadah shaum. Berdasarkan pemahaman itu pula, shaum kadang dilihat bentuk formal ritualnya saja. Hanya berpatokan pada kuantitas. Sehingga efek positif dari shaum belum bisa dirasakan setelah pelaksanaan shaum berakhir.

Padahal derajat ketakwaan bagi orang yang melaksanakan shaum tidak dapat dicapai tanpa pemahaman yang mendalam tentang shaum. Shaum tidak hanya bentuk ritual formal.

Kata shaum merupakan muradif (sinonim) kata al-imsak, yang berarti menahan. Menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Pada saat melaksanakan ibadah shaum ada larangan melakukan perbuatan-perbuatan yang boleh dilakukan di luar shaum. Orang yang shaum diarahkan untuk terampil menahan atau mengendalikan diri (self control).

Dalam persepektif lain, para ulama tasawuf mendefinisikan shaum sebagai riyadhah sanawiyah, yakni proses olah jiwa tahunan menuju pencerahan ruhani. Shaum semisal sekolah tempat mendidik jiwa untuk menjadi lebih baik (madrasah ruhaniah). Dengan melaksanakan shaum seorang muslim berusaha membersihkan diri menuju pencerahan ruhani atau menaikan derajat ruhani (mi’raj ruhaniah).

Namun demikian, tidak semua shaum yang dilakukan dapat menghantarkan seseorang mencapai pencerahan dalam bentuk meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT. sebagai tujuan ultima dari pelaksanaan shaum. Hanya shaum tertentu yang mampu menghantarkan orang pada derajat tersebut, yaitu mereka yang melaksanakan shaum khawas al-khawas (shaum superspesial) dalam istilah Imam Ghazali. Shaum mereka tidak hanya sekedar menahan dari dari makan, minum dan hubungan suami istri (shaum ‘am), tetapi lebih jauh mereka bisa menangkap esensi dari shaum.

Diantara esensi shaum adalah sebagai simbol kesalehan individual. Orang yang melaksanakan shaum dilatih untuk berlaku jujur kepada diri sendiri dan kepada Allah. Karena yang tahu ia sedang shaum hanya dirinya dan Allah. Dalam hadits qudsi Allah berfirman, “Shaum adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya”.

Selain dari itu, shaum juga merupakan relasi ketuhanan dan relasi kemanusiaan. Secara individual ia berlaku baik untuk dirinya guna meningkatkan ketakwaan yang transedental dan secara kemanusiaan ia melakukan internalisasi nilai-nilai sosial dengan mengendalikan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain dan empati terhadap penderitaan orang lain. Wallahu a’lam bis-showab.

Oleh: lenterapena | April 19, 2009

Memahami Musibah

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (as-Syura : 30)

“Kesedihan di negeri ini seolah tiada henti”, demikian sepotong perkataan teman saya ketika melihat kejadian kegiatan evakuasi korban situ Gintung di televisi. Memang benar, beberapa tahun terakhir negeri kita kerap kali ditimpa ragam musibah. Mulai badai tsunami, gempa bumi, gunung meletus, luapan lumpur, longsor dan banjir. Hampir setiap tahun ada saja musibah yang menimpa negeri ini.
Ungkapan tersebut manusiawi diungkapkan oleh tiap orang. Terutama apabila didasarkan pada fakta yang ditemui. Kesedihan, kegalauan, kekesalan, dan kemarahan kerap jadi ekspresi orang yang menyaksikan dan mengalami musibah (bencana). Namun, banyak juga korban bencana yang menyadari bahwa musibah yang menimpa mereka merupakan suatu hal yang berada di luar kendali manusia. Sehingga mereka pasrah dan menerima musibah tersebut sebagai sebuah suratan takdir (baca: ketentuan Allah SWT).
Di luar sikap penerimaan yang mewujud dalam kesabaran dan ketabahan, kita juga mesti memperhatikan musibah tersebut secara lebih teliti. Diantaranya adalah menyingkap apa yang melatarbelakangi musibah. Hal itu penting untuk dipelajari sebagai pengalaman dan pelajaran (‘ibrah) untuk masa yang akan datang. Karena musibah tidak semata-mata menimpa perorangan atau kelompok tanpa sebab dan akibat yang jelas. Penelitian dan pengamatan terhadap sebab dan akibat musibah adalah sebuah kegiatan ibadah tafakur terhadap kekuasaan Allah SWT yang sangat baik dilakukan.
Pemahaman tentang musibah sebagai suatu hal yang mutlak harus diterima seringkali membuat kita terlampau pasrah tanpa ada usaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Padahal ada wilayah dimana manusia dapat melakukan suatu usaha untuk mencegah dan mengantisipasinya. Kita tidak sepatutnya menyerah tanpa ada usaha. Bisa jadi keteledoran dan kesalahan manusia itu sendiri yang mengundang munculnya musibah.
Allah SWT. mengingatkan kita untuk untuk senantiasa mengoreksi diri dan bercermin dari kejadian masa lampau. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Q.S. as-Syura : 30).
Koreksi terhadap apa yang telah dilakukan menjadi sangat penting. Sejauh mana kita menghindarkan diri dari tindakan yang dapat mengundang musibah dan sejauh mana pula kita melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya musibah. Melalui koreksi, kita dapat mengetahui apa sebab yang melatarbelakangi sebuah musibah. Sehingga dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri tiap orang tanpa harus mencari-cari siapa yang harus disalahkan (dianggap bertanggungjawab) atau saling menyalahkan.
Namun apabila musibah yang menimpa kita benar-benar di luar kendali usaha manusia untuk menghindarinya. Maka sikap penerimaan adalah solusi terbaik dalam menghadapinya. Kita tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menandingi kekuasaannya. Karena kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Namun hendak diingat bahwa setiap musibah yang ditimpakan kepada siapa pun telah disesuaikan dengan kadar kemampuannya.“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Q.S. al-Baqarah:286).
Musibah adalah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya sebagai sarana peningkatan kualitas diri. Terutama peningkatan keimanan dan ketakwaan. Mudah-mudahan musibah yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini dapat mendorong peningkatan kualitas diri seluruh komponen bangsa menuju kemuliaan di sisi-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis, JAJANG BADRUZAMAN

Tulisan Sebelumnya »

Kategori