//
you're reading...
HIKMAH

Optimalisasi Diri

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.S. An-Nahl:78).

KITA dilahirkan ke dunia dalam keadaan yang sama. Lahir tanpa membawa busana. Tanpa bicara (terkecuali Nabi Isa A.S.). Kita hanya bisa menangis dan menggerakkan anggota tubuh kita.

Setiap orang lahir dengan memiliki segudang bakat dan potensi. Bakat merupakan bekal dari yang menciptakan kita untuk meningkatkan kualitas diri dan berkarya. Dengan bakat dan potensi orang mampu menjadi sukses. Dan dengan bakat dan potensi pula orang dapat mencapai cita-citanya. Dalam bahasa pendidikan, bakat dan potensi yang dimiliki oleh tiap orang hendaknya dibina, dilatih, dan dikembangkan.

Pengembangan atau pembinaan bakat dan potensi itu dilalui melalui proses pendidikan. Jadi seyogianya pendidikan berfungsi sebagai pengembangan bakat dan potensi anak, di samping fungsi pokoknya sebagai tempat penanaman nilai-nilai. Karena itu, hendaknya kita ingat bahwa Allah SWT memberikan potensi yang utama pada tiap orang sejak terlahir ke dunia ini, yaitu potensi untuk beragama.

Dengan adanya potensi beragama pada tiap orang, orang senantiasa punya kecenderungan untuk mengagung-agungkan sesuatu yang luar biasa. Hal ini terjadi dari zaman prasejarah, sampai pada masa manusia mengenal tulisan (zaman sejarah), manusia selalu memiliki sesuatu yang diagungkan. Seperti batu besar, pepohonan, dan hewan. Keyakinan mereka terkenal dengan dinamisme. Kemudian adapula yang mengagungkan dewa-dewa ataupun roh nenek moyang. Aliran ini disebut animisme. Pada zaman Nabi Muhammad pun orang Arab banyak yang menyembah berhala (paganisme).

Allah SWT menegaskan potensi beragama ini dalam Alquran sebagai berikut, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” ( Q.S. Ar Rum:30).

Jelaslah, bahwa setiap anak yang lahir ke dunia dalam keadaan fitrah (berpotensi) untuk beragama. Dan agama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah Islam. Sehingga para ulama sering mengatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia ini dalam keadaan Islam. Hal ini dipertegas dengan sabda Nabi Muhammad saw. “Setiap anak yang dilahirkan ke dunia dalam keadaan fitrah (Islam). Maka selanjutnya bergantung pada orang tuanya untuk menjadikan anak itu penganut Yahudi, Nasrani (Kristen), atau Majusi.” (Al hadis).

Di samping Allah mengaruniakan potensi atau fitrah beragama, Ia juga mengaruniakan tiga kemampuan dasar bagi manusia pada umumnya. Inilah bekal penunjang bagi semua orang untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat kelak.

Pertama adalah kemampuan mendengar, bentuknya telinga. Dengan telinga, orang mampu menerima hal-hal baru dari luar. Seperti ilmu dan pengetahuan. Orang juga dapat menikmati indahnya kicauan burung, alunan musik, dan lantunan ayat Alquran.

Kedua adalah penglihatan, sebagai sarana pendukung bagi akal yang berpikir. Dengan mata orang dapat melakukan penelitian yang dapat menambah pengetahuan. Sehingga merangsang otak untuk berpikir dan bertafakur akan keagungan Allah. Dalam Alquran, Allah SWT sering mengungkapkan sebutan bagi orang yang senantiasa mendayagunakan penglihatan dan akalnya dengan ulil abshar. Namun, kadang kita terlalu sempit mengartikan kata ulil abshar dengan ‘orang yang memiliki penglihatan’. Padahal kandungan maknanya lebih luas, yakni seorang manusia yang dapat mendayagunakan akal dan penglihatannya. Lebih tepatnya, seorang peneliti. Dengan menerjemahkan ulil abshar sebagai peneliti, kita dituntut untuk mampu memikirkan segala hal yang ada di sekeliling kita.

Ketiga adalah hati. Hati yang kita miliki ibarat sebuah lentera kecil yang mengarahkan hidup kita. Lentera ini terpantik oleh lentera utama yaitu Zat Yang Mahamemiliki Cahaya. Para ulama menilai bahwa orang mampu mendengar kata hatinya, hingga senantiasa mampu mengarahkan diri. Terutama mengarahkan haluan hidup menuju Rabb (mahabbah).

Kita punya kewajiban untuk mengoptimalkan tiga kemampuan itu, yang ditujukan untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. Sehingga apabila kita tidak berupaya menggali potensi diri dan mengembangkannya, barangkali kita akan termasuk ke dalam golongan orang yang menafikan adanya karunia Allah. Lebih jauhnya kita jadi orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Dengan kata lain lalai pada nikamt-Nya. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.An Nahl:16). Dan ada satu hal yang hendaknya kita ingat bahwa segala nikamt Allah berikan kepada kita, akan diminta pertanggungjawabannya. Dalam firmannya; Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. Al Israa’ :36).

Terakhir mari kita optimalkan potensi yang kita miliki. Terutama sebagai rasa syukur kita pada yang mengaruniakannya. Karena kalau kita tidak menggali dan mengembangkan potensi yang kita miliki tersebut, bisa jadi semua potensi itu akan terkubur dengan berlalunya usia. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (Q.S. Al An’am:46). Semoga mampu untuk menggali potensi yang kita miliki guna mencapai kehidupan bahagia di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam bishshwab.*

*Tulisan dipublikasikan di Koran Pikiran Rakyat 24 Maret 2006.

JAJANG BADRUZAMAN

Penulis, mahasiswa Pendidikan Agama Islam
UIN Sunan Gunung Djati Bandung, aktivis IMM Bandung.

 

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: