//
you're reading...
HIKMAH

Kasih Ibu

Ibu adalah sosok yang amat dekat dengan kita. Ia adalah sumber limpahan kasih sayang anak manusia.

Kenangan itu sangat melekat dalam ingatan sampai saat ini. Demikian besar jasa ibu pada anaknya. Setelah seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan anaknya, dan membimbing sampai beranjak dewasa dengan segala kenalan si anak. Namun, tiada tergambar jenuh dan sesal dalam raut wajahnya. Bahkan ketika anaknya lupa pada jasanya, ia tidak serta merta meminta balas jasa. Sungguh besar keihklasan yang engkau miliki wahai ibu.

Tepatlah sabda Nabi Muhammad SAW. ketika ditanya salahseorang sahabat, “Wahai Rasulullah siapa orang yang pertama kali harus aku hormati?”. Nabi mejawab, “Ibumu”. Lantas sahabat bertanya lagi, “Lalu siapa lagi wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Untuk ketiga kalinya sahabat bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?”. Beliau menjawab dengan jawaban yang sama, “Ibumu”. Pada keempat kalinya sahabat bertanya, “Lalu siapa lagi?”. Nabi menjawab, “Ayahmu”.

Dari hadits di atas, dapat kita fahami bahwa Rasulullah menyuruh kita untuk melebihkan seorang ibu dalam penghormatan dan kebaktian. Allah SWT. berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (syirik) dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…”(Al Israa:23).

Dalam ayat tersebut, berbakti kepada kedua orang tua ditempatkan pada tahapan kedua setelah ketauhidan kepada Allah SWT.. Itu mengisyaratkan penekanan akan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Terutama hormat dan bakti kepada ibu. Walaupun bakti kita pada mereka tak dapat mengimbangi bakti mereka dalam membesarkan kita.

 Mengenai jasa ibu ini, saya teringat sebuah bait lagu anak-anak TK yang mengungkapkan jasa besar seorang ibu dalam membesarkan anaknya,

Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Demikian besar jasamu ibu! Anakmu ini hanya bisa merepotkan, membuatmu kesal, dan tak mampu berbakti. Budi baikmu tidak dapat kami balas. Kami hanya bisa berdo’a, “Robbigfirli wa liwalidayya warhamhuma kama robbayani shaghiro” (Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka mendidik aku ketika kecil). Wallahu a’lam bis shawab.

 

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: