//
you're reading...
HIKMAH

Maulid Dan Semangat Keberagamaan

Kelahiran merupakan proses awal manusia menjajaki kehidupan di dunia. Awal ini (milad atau hari kelahiran) akan dikenang tatkala yang terlahir mampu melakukan perbaikan (kemaslahatan) di tengah masyarakat atau lingkungannya. Itulah kiranya, kenapa kita sering mengenang hari kelahiran beberapa tokoh. Termasuk Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran beliau yang seperti halnya dialami manusia biasa tidak mengisayaratkan bahwa diriya kelak akan menjadi seorang pemimpin pergerakan dalam masyarakat jahiliyah (kebobrokan akhlak) menuju kemajuan peradaban. Namun, dengan diturunkannya wahyu Allah kepada beliau (baca: diangkat sebagai rasul) dan revolusi sosial serta keagamaan yang beliau lakukan, dapat menjadikannnya seorang paling berpengaruh dalam peradaban manusia modern.

Ratusan juta pengikutnya sampai saat ini mengikuti jejak ajaran Allah yang disampaikannya. Dari berbagai belahan dunia. Serta dari berbagi etnis di berbagai negara.

Ada dua perubahan utama yang beliau lakukan dalam keberagamaan pada awal pengutusannya (diangkat sebagai Rasul), yaitu pembenahan ketauhidan dan akhlak masyarakat.

Ketauhidan adalah fundamen dalam keberagamaan. Inti katuhidan ini terdapat dalam kalimat thayyibah. Tepatnya dalam kalimat tahlil, ‘laa ilaaha illallohu’ (tiada tuhan selain Allah). Ini pula yang mejadi landasan bagi ritual keagamaan kita sebagai manusia (ibadah). Karena pada hakikatnya tugas kita adalah beribadah kepada-Nya (Adz Dzaariyaat: 56).

Adapun pembinaan akhlak diungkapakan dalam salahsatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “ sesunggunya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Dalam memahamai akhlak seringkali kita mengartikannnya sebagai etika toh. Padahal pengertian akhlak sangat luas. Diantaranya Al Ghazali mendefinisikan akhlah sebagai……

Pembenahan dalam ketauhidan bertujuan pada pembebasan manusia dari thogut (tirani). Pengertian thogut ini dapat difahami menjadi segala sesuatu yang diberhalakan oleh manusia, baik berupa sesuatu yang abstrak seperti kekuatan ghaib ataupun yang konkrit semisal kekayaan dan kekuasaan.

Esensi ajaran yang pertama inilah yang semula ditolak oleh masyarakat jahiliyah tempo dulu di jazirah Arab. Di mana masyarakat kala itu secara teologis menganut agama dinamisme (menyembah patung-patung dan benda-benda alam). Mereka terpenjara dalam tirani penghambaan pada benda. Dan dalam kehidupan sosial, mereka tetap berpegang pada tradisi yang membelenggu. Yaitu tradisi berperang. Banyak dari kabilah yang saling berperang demi ambisi kekuasaan. Sehingga terkurung tirani ambisi pada kekuasaan.

Dan yang menjadi tugas kedua Rasulullah adalah membenahi akhlak (dalam pengertian motif dan prilaku). Pembenahan motif ini bersandar pada ketauhidan yang lebih dahulu ditanamkan. Sehingga prilaku atau tingkah laku didasari oleh motif beribadah kepada Allah dan penyerahan diri kepadaNya (Islam).

Pembenahan yang dilakukan Nabi Muhammad pun (tauhid dan akhlak) dan semangat keagamaan Rasulullah seyogyanya kita refleksikan dalam kehidupan kita sekarang ini. Karena kita adalah generasi yang melanjutkan perjuangan Rasulullah. Terlebih saat ini kita pun masih terkurung dalam tirani-tirani kekuasaan, kekayaan dan ideologi. Alahasil mudah-mudahan melalui memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. kali ini, kita mampu untuk menangkap makna maulid yang sesungguhnya dan memulai untuk mengikuti jejaknya. Wallahu a’lam bis showab.

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: