//
you're reading...
HIKMAH

Maulid Nabi Dan Transformasi Sosial

Kelahiran Muhammad bin Abdullah pada 12 Rabiul Awwal empat belas abad silam menjadi pertanda awal perubahan peradaban umat manusia yang kelam kala itu. Terutama di jazirah Arab. Ia terlahir dari keturunan Bani Quraisy, klan pemuka Hijaz yang dihormati dan disegani. Dibesarkan dalam kehidupan masyarakat yang plural yang lengkap dengan variasi konflik primordialnya, serta penghargaan yang minim terhadap martabat manusia, lunturnya tatanan sosial, dan terjebak abjeksi moral.
Kondisi lingkungan yang mengkhawatirkan itu membuat kegelisahan dalam diri Muhammad bin Abdullah. Kontemplasi pun menjadi alternatif yang diajalaninya dalam mencari akar permasalahan dan solusi bagi penyelesaian kondisi masyarakat. Sampai tiba pada suatu kali dalam perenungannya di goa Hira, ia didatangi Jibril menyampaikan mandat Tuhan sebagai pembawa risalah-Nya (baca: Islam).
Transformasi Sebagai Tugas Kerasulan
Tugas terbesarnya sebagai pembawa risalah Tuhan adalah melakukan transformasi nilai-nilai Islam sebagai agama Tuhan yang normatif ke dalam bentuk perubahan sosial (sosial change) yang operasional. Dari teologi ke perubahan sosial (transformasi sosial). Sehingga pengaruhnya memiliki gema yang menggelegar dan cahaya yang menyinari seluruh pelosok negeri.
Menurut Kuntowijoyo (1998), setidaknya ada dua bentuk transformasi sosial yang beliau laksanakan, yakni pembebasan manusia (individual) dan transformasi kemasyarakatan (kolektif). Langkah inilah yang mampu memposisikannya sebagai orang paling berpengaruh dalam peradaban manusia.
Pembebasan manusia yang beliau lakukan terkait dengan minimnya penghargaan terhadap martabat manusia pada waktu itu. Masyarakat Arab yang merupakan komunitas di mana beliau tumbuh dewasa, tengah terjerumus dalam abjeksi moral. Tradisi menegak minuman khamar, judi, perang antar suku, dan tindakan asusila menjamur.
Tindakan diskriminatif terhadap kaum marginal merajalela. Seorang isteri yang sedang dalam masa haid dan memiliki anak perempuan dianggap aib yang memalukan. Perempuan yang sedang dalam masa haid diasingkan. Anak perempuan yang lahir dibunuh oleh orang tuanya sendiri dengan alasan anak perempuan tidak bisa dibanggakan. Hamba sahaya (abid dan amat) diperlakukan sebagai pemuas kebutuhan sang majikan, baik tenaga maupun seksual.
Dalam wilayah teologis, masyarakat Arab sebagian besar adalah penganut paganisme. Mereka menyembah berhala-berhala dan menyajikan sesajen sebagai bentuk pengorbanan. Sebuah ironi, manusia yang memiliki kekuatan fisik dan rasio tunduk pada sebuah benda yang dibuat oleh tangannya sendiri. Gambaran mengenai prilaku masyarakat Arab di atas, menunjukan demikian rendahnya penghargaan terhadap martabat manusia. Sehingga memerlukan kehadiran seorang pemimpin spiritual yang mampu memberi teladan dan pengayoman.
Adapun transformasi kemasyarakatan yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw. bertujuan menghapus sistem stratifikasi dual societies (dua golongan), yaitu kaum tuan (elit) dan kaum budak, sistem ekonomi ribawi dan ekspansi ekonomi, sistem politik otoriter dan patrimonial, dan nilai-nilai feodalisme kaum elit. Sehingga mampu menempatkan manusia sesuai dengan martabatnya. Makhluk yang memiliki kebebasan dan tanggungjawab.
Transformasi dan Peranan Kita
Apabila dilakukan pengkajian ke dalam diri, tentu akan muncul pertanyaan “apa peran kita dalam transformasi nilai-nilai Islam saat ini?”. Barangkali kita masih terjebak dalam penjara keinginan dan kepentingan pribadi, tiada sedikitpun terpikir untuk membantu orang di sekitar kita. Padahal masih banyak orang yang belum terperhatikan. Mereka yang termarginalkan karena stratifikasi sosial, tertindas karena kekuasan, dan kelaparan karena kesulitan ekonomi.
Idealnya regenerasi umat mesti berbarengan dengan transformasi sosial. Karena kejumudan (beku) sangat bertentangan dengan idea Islam. Perenungan kembali transformasi sosial dalam diri dan internaslisasinya dalam kehidupan pribadi serta masyarakat hendaknya menjadi tujuan. Dengan itulah cita-cita ideal Islam akan dicapai. Penebar kasih sayang kepada seluruh alam, rahmatan lil ‘alamin. Meninjam kalimat yang diungkapkan Kuntowijoyo, “Tuhan sebagai pusat keimanan dan Manusia sebagai ujung aktualisasi”. Wallohu a’lam.
Penulis, JAJANG BADRUZAMAN

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: