//
you're reading...
SOSIALITA

PILKADA Dan Perselingkuhan Kiai

Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) di tiga provinsi di pulau Jawa pada tahun ini menyorot perhatian media massa. Daerah tersebut adalah Jawa Barat yang akan melaksanakan pada PILKADA pada tanggal 13 April, Jawa Tengah pada tanggal 22 Juni, dan Jawa Timur pada tanggal 23 Juli. Pemilihan kepala daerah di tiga provinsi tersebut menajadi sorotan karena dianggap sebagai penopang kemajuan Ibu Kota Negara. Terutama, Provinsi Jawa Barat. Bahkan pulau Jawa sering jadi ikon kemajuan Indonesia, padahal tidak demikian seharusnya.

Dilihat dari demografi penduduknya, ketiga daerah tersebut merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh penduduk yang beragama Islam. Sehingga di daerah-daerah tersebut banyak didapati lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan madrasah, serta menjadi tempat lahirnya beberapa tokoh agama.

Salahsatu ikon lembaga pendidikan Islam adalah pesantren. Lembaga pendidikan ini memiliki peranan besar dalam pendidikan umat Islam. Dalam tradisinya, pesantren dipimpin oleh orang yang dituakan (sesepuh) yang dikenal sebagai kiai. Istilah tersebut merupakan sebutan atau gelar bagi tokoh agama Islam yang memberi peranan besar dalam pembinaan keberagamaan umat Islam. Baik yang berkiprah melalui lembaga pendidikan ataupun mereka yang berada di tengah masyarakat.

Posisi kiai dalam masyarakat adalah sebagai figur teladan dan rujukan dalam penyelesaian masalah keagamaan. Dengan perkataan lain, mereka adalah panutan bagi para santrinya (baca: murid) dan masyarakat sekitar. Posisi sebagai rujukan bagi masyarakat merupakan posisi strategis dan berperan besar dalam pengembangan masyarakat. Sehingga terbentuk sebuah tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi norma agama sebagai acuan dalam berprilaku. Keberhasilan pengayoman kiai ini, sangat besar ditentukan oleh pribadinya yang senantiasa memberikan teladan (mau’izah al-hasanah) kepada masyarakat.

Pudarnya Pesona

Posisi kiai dalam sebuah masyarakat juga tidak bisa dilepaskan dari esensi pribadinya sebagai manusia biasa. Tak dapat disangkal kadang bertindak yang tidak sepenuhnya sesuai dengan aturan agama. Kiai juga manusia, tak bisa terlepas (suci) dari kesalahan. Namun, sikap wara’ dan zuhud senantiasa menghiasi pribadinya. Sehingga nampak dalam kehidupan sehari-harinya sebagai pribadi yang taat beragama.

Seiring perkembangan zaman, fungsi “sebagian kiai” dalam sebuah masyarakat mengalami pergerseran peran. Semula sebagai pribadi yang mencitrakan sebagai seorang ilmuwan, kini memiliki peran lain (baca: berperan ganda). Di samping sebagai ilmuwan agama juga sebagai politisi. Jika dahulu kiai menjadi pengontrol (controller) kebijakan pemerintah bahkan oposan, kini tindak-tanduknya seolah dikontrol (baca: dikendalikan) oleh pemerintah dengan alasan politis. Jika pada waktu yang lampau pemerintah dan politisi meminta nasihat kepada kiai, sekarang beramai-ramai kiai meminta petunjuk kepada pemerintah dan politisi. Apalagi pada saat menjelang pemilihan kepada daerah pemilihan umum. Istilah lainnya, mereka berselingkuh dengan penguasa dan calon penguasa (politisi) demi kekuasaan.

Peran ganda yang dimainkan oleh kiai inilah, kiranya yang membuat pesona seorang kiai pudar di mata masyarakat dan santrinya. Secara logis kedekatan politis antara kiai dengan pemerintah (penguasa) atau politisi bertujuan untuk saling menguntungkan (mutual symbiosis). Namun penulis berpendapat, kedekatan politis yang terjalin ini akan lebih besar implikasi negatifnya bagi seorang kiai. Pemerintah memiliki kekuasaan (alat legimitasi dan harta) untuk memaksa siapapun termasuk kiai untuk mengikuti perintahnya. Politisi pun memiliki hasrat yang tinggi dan variasi cara untuk merengkuh kehendaknya secara bebas tanpa terikat norma, termasuk memaksa kiai. Sedangkan kiai terbatasi oleh norma agama yang dianut. Alhasil, kiai hanya akan jadi media permen karet, habis manis karet dibuang dimana saja (bisa jadi di tong sampah agar tidak kelihatan) dan dilupakan.

Penantian Umat

Peran ganda yang dimainkan oleh “sebagian kiai” ini telah berlangsung lama. Terutama mencuat sejak kekuasaan rezim orde baru yang gemar menggunakan kata subversif sebagai dalih pembungkaman tokoh (termasuk kiai) yang kritis terhadap pemerintah yang dianggap kurang berpihak pada rakyat. Dan disambung lagi dengan era reformasi yang lebih menonjol dengan relativisme dan kebebasan yang kebablasan.

Setelah sekian lama umat digiring oleh kiai mengikuti permainan pemerintah (penguasa) dan politisi, umat menantikan kembali sosok kiai yang bersahaja nan arif bijaksana di tengah-tengah mereka. Terlebih saat umat dilanda berbagai kesulitan dan kebingungan seperti saat ini. Carut-marut dunia hukum, wahana pertarungan politik yang memanas, serta himpitan kebutuhan ekonomi.

Sosok kiai yang dirindukan bukan sosok yang suka berselingkuh dengan penguasa dan penebar virus permusuhan (antar madzhab dan antar agama). Tetapi sosok penuh kebersahajaan, penebar kedamaian dan dihiasai sifat wara’ serta zuhud dalam segala tindakan. Figur yang dibutuhkan oleh bangsa yang sedang berupaya untuk bangkit dari segala keterpurukan. Wallahu a’lam.

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: