//
you're reading...
SOSIALITA

Penghargaan Kepahlawanan Guru

“Pahlawan pembangun insan cendikia”, demikian gubahan kalimat terakhir dalam lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang mulai disosialisasikan pada Hari Guru Nasional tahun ini. Perubahan pada lirik lagu yang sejak 1994 dijadikan himne guru tersebut merupakan hasil negosiasi antara Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas, PGRI dan Sartono sebagai penciptanya (Kompas, 24/11/2008).

Tujuan perubahan pada lirik lagu tersebut tiada lain sebagai bentuk pengakuan terhadap profesionalitas guru. Guru tidak lagi sebagai sebuah pengabdian semata, tetapi guru sebagai sebuah profesi yang memiliki nilai pengabdian dan pengakuan di dunia profesi. Pencitraan guru tidak lagi seperti yang dikumandangkan oleh Iwan Fals sebagai Oemar Bakri, tetapi sebagai pendidik yang bekerja secara profesional.

Profesionalisme guru dan pengakuan (penghargaan) terhadap guru sebagai sebuah profesi masih menjadi tema besar dalam perayaan Hari Guru Nasional pada tahun ini. Perhatian pemerintah yang belum optimal dalam peningkatan kualitas pendidikan di tanah air termasuk kesejajaran guru dengan profesi lain menjadi alasan logis tema tersebut masih diusung, bahkan kerap diangkat sebagai tema seminar pendidikan di berbagai tempat.

Penghargaan

Tanda jasa yang dulu tidak pernah disematkan di dada seorang guru, kini saatnya disematkan. Guru sebagai pionir pencetak generasi bangsa yang gigih layak mendapat penghargaan. Berkat jasa merekalah bangsa ini mencapai kemajuan seperti saat ini.

Salahsatu bentuk penghargaan yang layak mereka terima adalah penghargaan dari pemerintah sebagai pemegang otoritas dalam penyelenggaraan negara. Namun penghargaan itu belum terwujud sepenuhnya, masih dalam bentuk komitmen yang wajar untuk diragukan (dipertanyakan). Hal ini dapat diamati dari masih banyaknya guru yang belum hidup layak (terutama guru honorer), tunjangan profesi dan tunjangan fungsional pendidik bagi guru berstatus PNS yang telat dibayarkan, serta penghargaan yang berbeda terhadap guru swasta.

Kecermatan pemerintah, baik daerah dan pusat perlu ditingkatkan kembali dalam menangani permasalahan pendidikan yang mengemuka. Minimnya kecermatan pemerintah menjadi indikator kurangnya keseriusan dalam penanganan masalah tersebut. Sebagai contoh, komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer. Faktanya masih banyak guru honorer yang terkatung-katung nasibnya. Sehingga sering kita jumpai mereka yang mengajar di berbagai tempat (baca: sekolah) atau mereka yang berprofesi ganda guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Guru dengan profesi ganda merupakan fenomena yang ironis. Misalnya, ada guru yang juga berprofesi sebagai tukang ojek, tukang parkir dan pemulung. Tidak hina profesi yang mereka pilih, tetapi kerap dipandang tidak pantas oleh sebagian orang. Bahkan sering muncul ungkapan yang menyesakan dada mereka. Mereka kerap dipandang sebagai orang yang tidak profesional. Dengan kata lain, tidak memenuhi kriteria ideal pendidik. Tetapi di sisi lain, mereka juga membutuhkan biaya yang besar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena pendapatan yang didapat dari profesi guru tidak mencukupi.

Bagi pemerintah, memandang mereka dengan sebelah mata tanpa memberikan solusi bukan tindakan yang bijak. Karena pemerintah ada untuk menurunkan kebijakan yang adil. Tanpa membeda-bedakan status guru PNS, honorer atau swasta. Semuanya layak untuk dihargai sesuai dengan jasa dan pengorbanannya. Mereka turut serta membesarkan generasi penerus bangsa.

Kriteria guru

Penghargaan yang layak terhadap guru juga tidak diberikan dengan cuma-cuma. Mereka yang berhak mendapat penghargaan adalah mereka yang bekerja profesional. Memiliki kemampuan melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian sebagai pendidik dan pengabdian diri yang tinggi kepada orang lain (bangsa).

Secara formal, kriteria ideal guru adalah mereka yang memenuhi standar pendidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yaitu guru yang memiliki kualifikasi akademik, memiliki kompetensi dan memliki sertifikasi. Standar formal ini harus dipenuhi oleh setiap guru sebagai syarat utama pendidik profesional.

Semoga perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru dapat terus ditingkatkan. Tidak hanya sebagai sebuah komitmen dan perubahan lirik lagu, tetapi terwujud dalam sebuah kebijakan yang riil. Sebuah penghianatan terhadap kepahlawanan guru apabila perhargaan terhadap pahlawan pembentuk insan cendikia itu tidak terwujud.

Penulis,JAJANG BADRUZAMAN

Pengurus PC IMM Kota Bandung dan anggota Institute for Religion and Future Analysist Bandung

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: