//
you're reading...
HIKMAH

Spirit ‘Idul Adha

‘Idul adha atau ‘idul qurban adalah hari raya untuk menebar benih kesetiakawanan sosial (solidaritas) bagi sesama. Salahsatu ritual yang populer pada lebaran kedua ini adalah penyembelihan hewan kurban dan mendermakannya kepada keluarga serta tetangga. Perintah berkurban tersebut diungkapkan dalam firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (menyembelih hewan kurban) ” [al-Kautsar:2].

Ayat kedua dalam surat al-Kautsar di atas merupakan perintah tersurat (baca: gamblang) kepada setiap muslim untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Tujuan dari pelaksanakan kurban tersebut adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. atas anugerah nikmat yang telah diberikannya. Sebagaimana termaktub dalam ayat sebelumnya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak” [al-Kautsar:1].

Apabila difahami sepintas, ayat perintah kurban merupakan perintah yang terkesan elitis (hanya untuk kalangan tertentu). Ditujukan kepada orang yang memiliki rejeki lebih (orang kaya). Dengan alasan kurban membutuhkan biaya dan tidak semua muslim mampu melaksanakannya. Sehingga orang yang tidak memiliki rejeki lebih merasa tidak terkena khitab (perintah) untuk berkurban. Sehingga lebih banyak yang berharap menerima pemberian kurban dari orang lain dari pada berkurban untuk orang lain. Dengan kata lain, lebih siap untuk menerima dari pada memberi. Padahal spirit (substansi) dari perintah berkurban tersebut tidak hanya sebagai sebuah ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan sikap mau berkorban bagi orang lain atau berbagi terhadap sesama dalam bentuk apapun.

Nilai- nilai kesetiakawanan sosial inilah yang menjadi substansi ‘idul adha. Perasaan tepa selira, menebarkan kasih sayang, dan tolong menolong adalah internalisasi dari penghayatan terhadap ‘idul adha. Tidak hanya pada saat hari raya saja, tetapi dilaksanakan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Karena syukur semestinya tidak berhenti, sebagaimana terus mengalirnya nikmat yang Allah karuniakan. Semakin banyak nikmat yang kita terima, maka seyogianya semakin sering kita berkurban (sebagai bentuk syukur).

Wujud syukur yang dilakukan akan mendorong kita merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki (qana’ah) dan mengundang turunnya kembali karunia nikmat yang melimpah. Allah berfirman, “Jika kamu bersyukur atas nikmat yang telah Aku berikan, maka pasti Aku akan menambah nikmat itu” [Ibrahim:7].

Sikap penerimaan terhadap apa yang telah dimiliki sangat dianjurkan oleh agama. Sabda Nabi Muhammad Saw., “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kamu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kamu (dalam hal kenikmatan dan kekayaan), karena hal itu dapat mendorong kamu mensyukuri nikmat yang telah Allah karuniakan kepadamu” [H.R. Bukhari dan Muslim]. Sikap penerimaan juga dapat menjauhkan kita dari sikap takabur (sombong) atas apa yang dimiliki serta dapat menghindarkan dari sikap hasad (iri hati) terhadap kenikmatan dan kekayaan yang dimiliki orang lain.

Spirit ‘idul adha juga mengajarkan kepada kita untuk banyak memberi atau berbagi kepada sesama. Memberi sebagai wujud sikap rela berkorban merupakan sebuah keutamaan dalam ibadah muamalah (hubungan antar manusia). ‘Idul adha tidak saja jadi ajang menerima pemberian kurban dari orang lain, tetapi seyogianya menjadi ajang memberi kepada orang lain. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tangan di atas itu (memberi) lebih baik dari pada tangan di bawah (menerima)”. Sikap siap untuk memberi dan suka memberi lebih mulia daripada sikap siap menerima dan suka diberi.

Perwujudan sikap rela berkorban sebagai spirit ‘idul adha adalah sikap yang sangat mulia untuk dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Karena sebaik-baik amal adalah yang dibiasakan atau dilakukan secara terus-menerus. Mari kita wujudkan spirit ‘idul adha (semangat berkorban kepada sesama) dalam kehidupan sehari-hari dengan semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Wallahu a’lam bis shawab.*

Penulis, JAJANG BADRUZAMAN

Pengurus PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung.


*Tulisan dipublikasikan di koran PIKIRAN RAKYAT pada 9 Desember 2008.

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: