//
you're reading...
HIKMAH

Shaum

Dalam pemahaman keumuman kaum muslim, shaum sering dimaknai sebagai kegiatan menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami istri mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Definisi mengenai bentuk shaum tersebut sering dijadikan ukuran ketuntasan ibadah shaum. Berdasarkan pemahaman itu pula, shaum kadang dilihat bentuk formal ritualnya saja. Hanya berpatokan pada kuantitas. Sehingga efek positif dari shaum belum bisa dirasakan setelah pelaksanaan shaum berakhir.

Padahal derajat ketakwaan bagi orang yang melaksanakan shaum tidak dapat dicapai tanpa pemahaman yang mendalam tentang shaum. Shaum tidak hanya bentuk ritual formal.

Kata shaum merupakan muradif (sinonim) kata al-imsak, yang berarti menahan. Menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Pada saat melaksanakan ibadah shaum ada larangan melakukan perbuatan-perbuatan yang boleh dilakukan di luar shaum. Orang yang shaum diarahkan untuk terampil menahan atau mengendalikan diri (self control).

Dalam persepektif lain, para ulama tasawuf mendefinisikan shaum sebagai riyadhah sanawiyah, yakni proses olah jiwa tahunan menuju pencerahan ruhani. Shaum semisal sekolah tempat mendidik jiwa untuk menjadi lebih baik (madrasah ruhaniah). Dengan melaksanakan shaum seorang muslim berusaha membersihkan diri menuju pencerahan ruhani atau menaikan derajat ruhani (mi’raj ruhaniah).

Namun demikian, tidak semua shaum yang dilakukan dapat menghantarkan seseorang mencapai pencerahan dalam bentuk meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT. sebagai tujuan ultima dari pelaksanaan shaum. Hanya shaum tertentu yang mampu menghantarkan orang pada derajat tersebut, yaitu mereka yang melaksanakan shaum khawas al-khawas (shaum superspesial) dalam istilah Imam Ghazali. Shaum mereka tidak hanya sekedar menahan dari dari makan, minum dan hubungan suami istri (shaum ‘am), tetapi lebih jauh mereka bisa menangkap esensi dari shaum.

Diantara esensi shaum adalah sebagai simbol kesalehan individual. Orang yang melaksanakan shaum dilatih untuk berlaku jujur kepada diri sendiri dan kepada Allah. Karena yang tahu ia sedang shaum hanya dirinya dan Allah. Dalam hadits qudsi Allah berfirman, “Shaum adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya”.

Selain dari itu, shaum juga merupakan relasi ketuhanan dan relasi kemanusiaan. Secara individual ia berlaku baik untuk dirinya guna meningkatkan ketakwaan yang transedental dan secara kemanusiaan ia melakukan internalisasi nilai-nilai sosial dengan mengendalikan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain dan empati terhadap penderitaan orang lain. Wallahu a’lam bis-showab.

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: