//
you're reading...
HIKMAH

Menggapai Kemenangan

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut (karena dosa) kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan (An-Nur: 52)

Berakhirnya bulan ramadan menyisakan kenangan indah bagi setiap muslim. Kenangan pada sebuah kedekatan dengan Maha Pencipta melalui ibadah-ibadah di bulan yang suci. Kedekatan yang terjalin melalui shaum, shalat dan melantunkan firman-Nya. Demikian pula kenangan pada kehangatan persaudaran melalui tolong-menolong dengan sesama (ta’awun), menebar sedekah dan menunaikan zakat.

Bulan ramadan merupakan waktu yang sangat tepat untuk melatih diri (riyadhah tsanawiyah) dalam rangka meningkatkan kualitas pribadi sebagai manusia (ketakwaan). Berlatih menahan diri dari syahwat anggota tubuh, mengendalikan pikiran dan hati. Menghindari segala yang membahayakan keberadaan diri sendiri dan orang lain. Meningkatkan ketaatan kepada Allah Swt. Melalui ibadah.

Apa yang dilatihkan kepada diri masing-masing tidaklah berhenti bersamaan dengan berakhirnya bulan suci ini. Idulfitri sebagai hari kemenangan bukanlah akhir dari proses peningkatan kualitas diri dan penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang mulia, melainkan pertanda awal keberhasilan kita dalam melatih diri guna lebih meningkatkan kualitas pribadi. Apabila pada bulan ramadan kita melakukan segenap ibadah, baik ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah Swt. (mahdhah) maupun yang berkaitan dengan sesama (ghair mahdhah), seyogianya pada bulan syawal dan bulan berikutnya pun tetap melaksannakannya (istiqamah). Bahkan ditingkatkan menjadi lebih baik.

Kemenangan pada hari raya Idulfitri adalah kemenangan bagi orang yang mampu meningkatkan kualitas pribadi atau ketakwaannya kepada Allah Swt. Jika pada bulan sebelum ramadan kita belum mampu meninggalkan perbuatan yang sia-sia, maka setelah ramadan kita mampu meninggalkan perbuatan tersebut dan menggantinya dengan perbuatan yang lebih bermanfaat. Demikian pula, apabila sebelum ramadan kita belum mampu melaksanakan ibadah yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya, maka setelah bulan ramadan lebih giat melaksanakannya.

Tujuan utama diwajibkannya shaum di bulan ramadan adalah untuk meningkatkan ketakwaan. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-baqarah: 183). Sehingga yang menjadi penentu kemenangan seseorang di hari raya adalah peningkatan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Apabila setelah ramadan ketaatan kita kepada Allah Swt. meningkat, maka itu bisa jadi tanda peningkatan ketakwaan kita. Sebaliknya, apabila ketaatan kita menurun, maka itu bisa jadi tanda ketakwaan kita menurun. Namun, hendak diingat bahwa ramadan bukanlah satu-satunya waktu untuk menempa diri dengan ragam latihan spiritual keagamaan. Karena pada hakikatnya setiap waktu adalah baik untuk dimanfaatkan dalam jalan kebaikan. Setiap gerak-gerik seorang muslim kapan pun bisa jadi ladang ibadah apabila disertai dengan niat menggapai ridha-Nya. Kebaikan senantiasa memiliki tempat untuk dilakukan oleh siapa pun.

Setiap muslim yang telah menjalani proses peningkatan kualitas pribadi pada bulan ramadan adalah mereka yang terlahir kembali dalam kesucian jiwa dan siap mewarnai diri serta lingkungannya dengan ragam kebaikan. Setiap perkataan yang diucapkannya sesuai dengan apa yang dilakukan. Tindakannya senantiasa memperhatikan nilai-nilai agama yang mulia dan kemanfaatan bagi dirinya serta orang-orang di sekitar.

Secara etis, ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah Swt. senantiasa berorientasi pada nilai-nilai kemanusian atau kemaslahatan umum. Mendorong orang yang melaksanakan ibadah untuk peduli terhadap orang-orang di sekelilingnya. Demikian pula dengan shaum, ia mendorong setiap orang untuk peka terhadap keadaan orang-orang di sekelilingnya. Terutama mereka yang berada dalam kondisi kekurangan. Sehingga setiap orang terdorong untuk saling membantu dan berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Allah Swt. memberikan janji yang sangat manis bagi orang-orang yang senantiasa mewarni kehidupan dengan ketakwaan dan kebaikan, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (An-nahl: 128). Dengan kedekatan itulah, apa pun kehendak baik yang dimiliki orang yang bertakwa dan orang yang senantiasa melakukan kebaikan dengan seizin-Nya akan terwujud. Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang yang menggapai kemenangan di hari raya yang suci ini. Wallahu a‘lam bis shawab.

About lenterapena

Jajang Badruzaman, Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: